Mengenang Gus Dur: Tidak Ada Jabatan yang Perlu Dipertahankan Mati-matian!

  • Bagikan
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

"Kompromi bagaimana? Bagi-bagi jabatan! Para petinggi partai menuntut Gus Dur untuk membubarkan kabinet yang ada dan memberi kursi pada petinggi partai yang menentangnya. Hal itu disampaikan Mahfud MD setelah bertemu beberapa petinggi," jelas Jaringan Gusdurian di Twitter.

Mendengar hal itu Gus Dur pun menggebrak meja. "Tidak bisa. demokrasi itu bukan pasar!” ucap Gus Dur dengan nada tinggi.

Gus Dur sangat marah dengan kenyataan bahwa partai-partai hanya mengincar jabatan.

Ada pula suara dari kelompok relijius yang berjanji mendukungnya. Syaratnya, Gus Dur harus jadikan ‘NKRI Bersyariah’.

Jika skenario ini dijalankan, Gus Dur akan aman. Tentu saja opsi-opsi di atas ditolak sepenuhnya.

"Beberapa bulan sebelumnya Gus Dur ditekan kanan kiri dengan kasus yang diada-ada seperti Buloggate dan Bruneigate yang tidak pernah terbukti, sebagaimana diputuskan oleh Kejaksaan Agung. Perseteruan dengan parpol dan elite Polri-TNI membuatnya semakin berada di posisi sulit," urainya lebih lanjut.

Dari keputusan Gus Dur tersebut, secara tersirat telah mengajarkan anak bangsa dan generasi penerus tentang makna sebuah berjuang.

Perjuangan dengan idealisme, aktivisme nir-kekerasan. Gus Dur tidak menjelaskan apa manfaat perjuangan itu, tapi untuk tegaknya nilai-nilai kebenaran.

Warga Nahdlatul Ulama (NU) bahkan berpendapat bahwa Gus Dur telah mengajarkan bahwa perjuangan itu pahit dan getir, tapi jiwa kita bisa bahagia menerimanya.

"Gus Dur menempa kami anak-anak muda NU menjadi pribadi yang harus kuat. Kuat dalam berjuang tanpa mengeluh dan bertanya kapan perjuangan itu berakhir," ungkap akun Twitter @NU_bersatu.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan