Ini Tirakat Nyai Sholichah dalam Nasi yang Dikonsumsi Gus Dur Kecil, Dahsyat!

  • Bagikan
Nyai Sholichah dan Gus Dur (foto: twitter @SejarahUlama)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Jika ingin memiliki seorang anak yang sholeh, alim, dan ahli ibadah hendaknya kedua orangtua “nirakati” anaknya, cara nirakati pun telah banyak diajarkan oleh para ulama.

Dilansir dari utas Twitter @SejarahUlama diuraikan bahwa Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan mengajarkan orangtua untuk nirakati anak dengan memberikan harta yang halal, dan puasa pada saat hari kelahiran anak.

Sedangkan KH Arwani Amin memberikan amalan surat al-Furqan ayat 74 yang dibaca tiga kali setelah shalat supaya Allah memberikan anak yang penurut, ahli Quran, dan berakhlak mulia.

Berbeda lagi dengan Nyai Sholichah, istri KH Wahid Hasyim dalam nirakati anaknya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Menurut @SejarahUlama, Ustaz Ahmad Muntaha menceritakan kisah yang ia dapat dari Dr Ngatawi al-Zastrouw, asisten Gus Dur. Tirakat yang dilakukan oleh Nyai Sholichah adalah melantunkan shalawat pada butir-butir beras sebelum dimasak.

Hal tersebut dilakukan oleh Nyai Sholichah selama bertahun-tahun, hingga menumbuhkan pribadi Gus Dur yang kita ketahui saat ini.

Setiap malam, Nyai Sholichah memilih dan memilah butir-butir beras terbaik sembari melantunkan shalawat pada setiap butir beras yang dipilih.

"Beliau memilah butir beras tersebut hingga sekiranya cukup untuk dimasak pada hari itu. Esoknya beliau melakukan hal yang sama," ungkapnya.

Setelah butir-butir yang mengandung shalawat tersebut dimasak, beliau akan melarang siapapun menyentuh nasi tersebut kecuali untuk tiga orang, yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari (ayah mertua), KH Wahid Hasyim (suami), dan anak sulungnya Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur).

  • Bagikan