Warga Pulau di Makassar Makan Janji, 20 Tahun Tunggu Pemecah Ombak

  • Bagikan
Pulau Khayangan tampak dari Makassar. (Foto: Nurhadi Sasu/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-- Janji Pemkot untuk membangun tanggul pemecah ombak di pulau-pulau dalam Kecamatan Sangkarrang tak kunjung terealisasi.

Warga Barrang Lompo, Sardi, mengaku setiap tahun mereka harus waspada dengan kedatangan ombak besar. Tanpa tanggul pemecah ombak, rumah mereka menjadi santapan ombak.

Hal ini sering terjadi saat musim angin barat tiba. Tepatnya sepanjang November hingga April. Abrasi mengikis lingkungan warga. Ombak yang tinggi menghasilkan rob atau banjir di tepi pantai yang menggenangi rumah warga.

"Rumah rusak bahkan terseret ombak, terjadi setiap tahun," kata Sardi.

Tahun lalu, tambahnya, dua rumah warga roboh terkena ombak. Mereka terpaksa hidup tanpa rumah dan tinggal menumpang di rumah keluarga.

Sardi menyebut, kondisi ini terjadi hampir di semua pulau-pulau yang masuk wilayah Makassar. Tanpa bantuan pemerintah, warga secara swadaya membangun tanggul sederhana dari karung-karung berisi pasir.

"Sudah lama kami dijanji (tanggul pemecah ombak). Itu sebelum zamannya periode pertama Pak Ilham (IAS). Sekarang sudah sekitar 20 tahun kami menunggu ada pemecah ombak," ujar Suarman, warga lainnya.

Sejumlah pejabat kerap melakukan kunjungan ke pulau-pulau. Mereka menyaksikan sendiri pentingnya pemecah ombak dibangun. Janji-janji dilontarkan, namun hingga kini tak kunjung terwujud.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Kepulauan Sangkarrang ini mengatakan, pemecah ombak selalu menjadi usulan tahunan saat rapat musrembang. Namun hanya sebatas usulan, tanpa tindak lanjut.

"Alasannya, tinggi anggaran. Selalu jadi wacana. Beberapa kali kunjungan (pejabat), tidak pernah juga dibangun (pemecah ombak)," terangnya.

  • Bagikan