Pengacara Andreas Nahot Silitonga Ungkap Kejanggalan Penetapan Tersangka Bharada Richard Eliezer, Ini Alasannya

  • Bagikan
Sopir Irjen Pol Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer atau Bharada E. Foto: Ricardo

FAJAR.CO.ID, JAKARTA - pengacara Bhayangkara Dua Richard Eliezer alias Bharada E, Andreas Nahot Silitonga menyayangkan status penetapan tersangka terhadap kliennya oleh penyidik Bareskrim Polri.

Bharada E ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Bareskrim Polri atas kasus kematian Brigadir Nofryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J pada Rabu (3/8) sekitar pukul 22.30 WIB.

Padahal, klaim Andreas, Bharada E baru selesai menjalani pemeriksan sebagai saksi pada pukul 01.02 WIB, Kamis (4/8).
"Jadi, kami pertanyakan bagaimana seseorang yang belum selesai diperiksa sebagai saksi, tetapi (ditetapkan) tersangka," kata Andreas di Bareskrim Polri, Kamis sore.

Andreas merasa bingung dengan langkah polisi menetapkan Bharara E sebagai tersangka sebagaimana diumumkan Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi pada Rabu malam itu.

"Yang paling membingungkan buat kami adalah klien kami belum selesai diperiksa sebagai saksi dan baru menandatangani berita acara pemeriksaan saksi itu tepat di tanggal 4 hari ini, jam 01.02 WIB pagi," kata Andreas.

Karena itu, pengacara pun menuangkan kekeliruan polisi dalam berita acara pemeriksaan (BAP). "Itu juga sudah kami tuangkan di dalam BAP, kami catat tanggalnya, sehingga buat kami itu suatu hal yang membingungkan," ujar Andreas.

Menurut Andreas, gelar perkara penentuan tersangka didasari oleh pemeriksaan saksi, termasuk Bharada E, sehingga berkekuatan hukum.

"Seharusnya, selesai dahulu berita acara itu ditandatangani, baru kemudian memiliki kekuatan hukum untuk kemudian dipertimbangkan di dalam gelar perkara," ujar Andreas.
Penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan Bharada E sebagai tersangka. Penetapan tersangka terhadap Bharada E setelah penydik melakukan gelar perkara.

  • Bagikan