Partai Baru Sulit Raih Suara di Atas 4 Persen, Ini Penjelasan Pengamat Politik

  • Bagikan
Ilustrasi. (int)

Fajar.co.id, Jakarta -- Pengamat dan peneliti Politik, Saiful Mujani melalui channel YouTube SMRC TV bertajuk 'Peluang Partai-Partai Baru' pada pemilu 2024, Kamis (18/8/2022) mengatakan, ada tiga unsur partai politik bisa dilahirkan dan dimunculkan.

Pertama, ada momentum, partai politik tidak bisa diciptakan begitu saja, tahun 1999 terjadi krisis ekonomi dan keruntuhan orde baru (orba) yang tidak bisa diulang dan direkayasa begitu saja. Momentum itu untuk PDI-Perjuangan, karena keruntuhan orba di tahun 1998 identik dengan represi terhadap PDI-Perjuangan.

Kedua, basis sosiologis seperti halnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ada basis massa Nahdlatul Ulama (NU) di samping Gus Dur sebagai tokoh. Ada Partai Amanat Nasional (PAN) yang ada basis massa Muhammadiyah di samping Amin Rais sebagai tokoh.

"Ketiga, tokoh yang bagus dalam konteks pentingnya seorang tokoh adalah lahirnya Partai Demokrat yang tidak ada ormasnya. Ketika SBY masuk di arena politik praktis, tidak ada ormas, yang ada cuma pak SBY dan teman-temannya," sebut Saiful Mujani.

Peneliti politik ini juga menampilkan grafik jumlah partai yang ikut pemilu dan jumlah partai yang mendapat 4 persen ke atas dari pemilu 1999 hingga pemilu 2019.

Terlihat dalam grafik tersebut, pemilu 1999 ada 48 partai, 5 partai meraih suara 4% ke atas, pemilu 2004 ada 24 partai, 7 partai meraih suara 4% ke atas, pemilu 2009 ada 38 partai, 8 partai meraih suara 4% ke atas, pemilu 2014 ada 12 partai, 10 partai meraih suara 4% ke atas, dan pemilu 2019 ada 16 partai, 9 partai meraih suara 4% ke atas.

  • Bagikan