Ini Saran Ekonom Terkait Penanganan Subsidi BBM

  • Bagikan
Warga antre mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Kawasan Jakarta, Rabu (31/8). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS )

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Upaya pemerintah dalam menjaga dan mengendalikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan menggelontorkan subsidi, tak dipungkiri menimbulkan dilema bagi pemerintah sendiri.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyarankan pemerintah untuk belajar mengelola bahan bakar minyak, termasuk BBM bersubsidi dari Timor Leste. Menurut Faisal, cadangan minyak dalam negeri terus menyusut hingga diperkirakan akan habis dalam waktu maksimal 9 tahun mendatang.

“Sumber daya alam ini harus juga diwariskan lebih adil ke genarasi mendatang, tidak dihabiskan oleh generasi sekarang,” kata Faisal kepada wartawan, Kamis (1/9).

Faisal mengungkapkan, sumber daya alam seperti minyak bumi yang dimiliki Indonesia merupakan karunia Tuhan yang sangat berharga. Dia meminta, sumber daya alam itu benar-benar harus dijaga keberadaanya.

“Jadi kalau kita menyia-nyiakan karunia Tuhan yang sangat berharga itu dengan cara mengobralnya maka kalau harga murah makin cepat itu habisnya karena makin banyak yang beli,” ungkap Faisal.

“Kenapa makin banyak yang beli, karena disubsidi, makin murah. Akibatnya, kekayaan alam yang harusnya hak kalian nikmati tapi tidak jadi dinikmati,” sambungnya.

Faisal pun mengajak Indonesia meniru Timor Leste dalam menentukan harga BBM. Dia menyebut, negara itu memiliki harga BBM yang lebih tinggi dari Indonesia meski berstatus sebagai produsen dan eksportir.

“Dia (Timor Leste) tidak mau kasih subsidi suka-suka. Mereka sisihkan 30 persen dari pendapatan minyaknya itu dalam bentuk dana minyak untuk biaya sekolah, bangun insfrastruktur, energi terbarukan, energi solar, dan sebagainya,” beber Faisal.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan