Vonis Pengeroyok Kliennya Dinilai Melukai Rasa Keadilan, Muannas Alaidid: Ade Armando Cedera pada Kemaluan dan Kantung Kemih

  • Bagikan
Ade Armando di depan Gedung DPR , sebelum kejadian pengeroyokan. EDY ARSYAD/FNN

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Enam terdakwa pengeroyok pegiat media sosial (medsos) Ade Armando divonis hukuman delapan bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakspus), Kamis (1/9/2022). Kuasa Hukum Ade Armando, Muannas Alaidid, menilai putusan itu sangat melukai rasa keadilan.

Tak hanya itu, Muannas Alaidid mengungkapkan Ade Armando sebagai korban tidak hanya mengalami kekerasan luka luar, tetapi mengalami cedera pada kemaluan dan kantung kemih sesuai rekam medis.

Hal itu diungkapkan Muannas Alaidid pada tangkapan layar pernyataannya yang diunggahnya di Twittter.

"Duka mendalam atas putusan ade armando," tulis Muannas Alaidid, dikutip FAJAR.CO.ID, Kamis, (1/9/2022).

Selain itu, Muannas Alaidid pun mengunggah tangkapan layar sebuah berita terkait vonis enam terdakwa pengeroyok Ade Armando itu, serta peryataannya terkait putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakspus).

Berikut pernyataan Muannas Alaidid tersebut:

Karena Ade Armando Luka Berat Putusan 8 Bulan penjara sangat lukai rasa keadilan

Saya berharap "jaksa segera ajukan banding* sebab putusan 8 bulan penjara masih jauh dari rasa keadilan, saya merasa ada masalah di pengadilan kita, bila melihat kondisi ade armando sebagai korban jelas ia tidak hanya mengalami kekerasan luka luar yang serius karena pukulan dan injakan khususnya dibagian wajah dan badan tapi juga bagian dalam, dimana terjadi cedera pada kemaluan dan kantung kemih sesuai rekam medis.

Kemudian jika melihat pasal yang didakwakan ancaman pidana pasal 170 KUHP itukan diatas 5 tahun bahkan ayat berikutnya ada pemberatan 9 tahun penjara jika akibatkan luka berat karena penganiayaan, sehingga tidak masuk akal dan aneh *korbannya jelas luka berat kok pelaku hanya dihukum dibawah 1 tahun penjara dimana keadilannya ? apalagi mayoritas pelaku akui tak tak ada penyesalan dan meminta maaf kecuali 1 orang atas nama Al Fikri Hidayatullah, dan yang paling penting niat untuk menghentikan kekerasan saat itu bukan karena kesadaran pelaku tapi karena diselamatkan petugas kepolisian.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan