Sebut Kenaikan Subsidi BBM ‘Dieksploitasi’, Anthony Budiawan: APBN Bisa Jebol

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Peneliti dari Political Economic and Policy Study (PEPS) Anthony Budiawan menyebut, kenaikan subsidi BBM “dieksploitasi”. Hal ini kata dia dapat membuat APBN jebol.

“Kenaikan subsidi BBM ini ‘dieksploitasi’: APBN bisa jebol!,” ujarnya Kamis, (1/9/2022).

Di menjelaskan, neraca keuangan minyak bumi/BBM, laporan operasional telah diaudit BPK.

Lanjut kata dia, Inductively Coupled Plasma (ICP) naik, begitu pun dengan subsidi dan kompensasi BBM.

Dimana pada tahun 2020 subsidi dan kompensasi BBM sebesar Rp15,2 Triliun, 2021 sebesar Rp78,7 Triliun, artinya ada kenaikan sebesar Rp63,5 Triliun. Tahun 2022 Rp14,5 Triliun.

Di lain sisi, kenaikan ICP juga membuat pendapatan negara dari minyak bumi naik mencapai Rp51,08 triliun pada 2021 dibandingkan 2020.

“Tetapi, kenaikan pendapatan ini tidak diungkap kepada publik. Yang diungkap hanya kenaikan subsidi BBM saja: ditambahi APBN bisa jebol,” tuturnya.

Lebih jauh, dia menjelaskan secara keseluruhan kenaikan neto subsidi dan kompensasi BBM 2021, setelah memperhitungkan kenaikan pendapatan negara dari minyak bumi hanya Rp12,5 triliun.

“Secara keseluruhan, neraca keuangan minyak bumi 2021 masih surplus Rp35,6 triliun. Bagaimana 2022, APBN akan jebol?,” tambahnya.

Terkait subsidi salah sasaran, cuma ada kemungkinan. Pertama esensi subsidi tidak dipahami. Kedua, penyesatan untuk pembenaran menghapus subsidi.

“Untuk itu, sebaiknya belajar dari Malaysia: kecuali kendaraan asing, siapapun boleh beli BBM RON95, harga di bawah Rp7.000 per liter,” pungkas Anthony Budiawan. (selfi/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan