Kenaikan Harga BBM Berdampak bagi Masyarakat Menengah ke Bawah

  • Bagikan
Ilustrasi pembelian bbm

FAJAR.CO.ID -- Masyarakat bertanya-tanya tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sementara gerakan demi gerakan mulai dilancarkan setiap tempat agar BBM tidak mengalami kenaikan, karena akan berdampak pada aspek sosial.

Kemudian, lonjakan antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kian meningkat. Namun, Presiden RI Joko Widodo pada Sabtu (3/9/2022) siang tadi resmi menaikkan harga BBM.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 136,32 juta unit pada 2020. Rinciannya, 115,29 juta sepeda motor, 15,8 juta mobil penumpang, 5,01 juta truk, dan 233,42 ribu bus.

Sehingga, dari data tersebut diperlukan banyak persipaan agar mampu mengakomidir kendaraan sebanyak 136,32 juta.

Pengamat ekonomi dari center of reform on economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan dampak kenaikan harga BBM paling dirasakan oleh masyarakat lapisan terbawah, yang membutuhkan pertalite dan solar untuk aktivitas konsumsi dan produksi.

Secara agregat, kenaikan harga BBM juga akan secara signifikan memengaruhi inflasi karena efek tidak langsung, misalnya pada harga pangan.

“Dan tentu saja saat inflasi tinggi, income-nya masih belum sepenuhnya pulih, ini berarti income riilnya akan turun. Daya beli akan mengalami penurunan,” kata Faisal dilansir dari BBC News Indonesia.

Di antaranya kelompok masyarakat yang akan merasakan dampaknya adalah pengusaha mikro dan pekerja sektor informal.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai 65,47 juta unit pada tahun 2019. Jumlah tersebut naik 1,98% jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 64,19 juta unit.

Sementara, usaha berskala besar hanya sebanyak 5.637 unit atau setara 0,01%. Secara rinci, sebanyak 64,6 juta unit merupakan usaha mikro. (fajar/sam)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan