Sebut Tahun 2023 Belum Baik-Baik Saja, Sri Mulyani Perkirakan Penerimaan Pajak Cuma Naik 4,8 Persen

  • Bagikan
Menkeu Sri Mulyani

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut situasi ekonomi masih cukup sulit bagi keuangan negara. Hal ini menurutnya karena ancaman tidak hanya berasal dari sisi perekonomian, tetapi juga dari sisi keamanan dan politik global.

Maka dari itu Sri Mulyani mengungkapkan, bahwa APBN masih akan berperan sebagai shock absorber, terutama dari sisi inflasi global yang akan memberikan dampak kenaikan harga di dalam negeri, akibat peningkatan harga komoditas global.

“Semuanya mengalami tekanan cost yang sangat melonjak, karena bahan dasarnya melonjak tinggi akibat krisis energi. Ini yang diabsorb pemerintah dalam bentuk kenaikan subsidi kompensasi dan diberikan dalam bentuk bansos ke kelompok rentan,” katanya dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (5/9/2022).

Alumni Universitas Indonesia ini bilang, ancaman kenaikan risiko inflasi global yang menyebabkan likuiditas mengetat akan meningkatkan beban biaya (cost of fund/CoF) surat utang negara (SUN). Karena hal itu, pengendalian defisit dan utang negara menjadi penting agar risiko tersebut dapat lebih dijaga terhadap APBN dan perekonomian domestik.

Dengan kondisi yang  tidak itu, pemerintah pun menargetkan pertumbuhan yang konservatif pada penerimaan perpajakan 2023, yaitu sebesar 4,8 persen menjadi Rp2.016,9 triliun.

“Pertumbuhan tahun depan diperkirakan 4,8 persen, relatif konservatif karena kita lihat pertumbuhan dari 2021 dan 2022 akan ternormalisasi dengan ancaman terjadinya resesi global dengan inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga,” tuturnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan