Minta KPPU Usut Intervensi Pemerintah ke SPBU Vivo, Rizal Ramli: Tuntut Dong Pakai UU Anti Monopoli

  • Bagikan
Rizal Ramli (Twitter)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menimbulkan kontroversi salah satunya di bidang Industri.

Salah satunya adalah PT Vivo Energy Indonesia yang dulunya menjadi distributor BBM termurah di Indonesia.

Hal tersebut bisa terjadi karena pengelola SPBU Vivo resmi menaikkan BBM jenis Revvo 89 menjadi Rp. 10.900 per liter per 5 September 2022 sore.

Sebagai informasi, sejak Minggu (4/9/2022) hingga Senin (5/9/2022) BBM Revvo 89 hilang di sejumlah SPBU, karena pihak Vivo tak memasang daftar harga Revvo 89 di 'plang' harga.

Sejumlah petugas mengatakan bahwa stok Revvo 89 kosong. Namun, pada sore harinya, plang harga kembali dibuka dengan kenaikan harga menjadi Rp 10.500 per liter.

Rumor yang berkembang di masyarakat hal tersebut akibat tekanan dari pemerintah karena harga BBM milik Vivo yang dijual lebih murah.

Komisi Pengawasan Persaigan Usaha (KPPU) diminta untuk menyelidiki atau mengusut lebih dalam intervensi dari pemerintah tersebut.

Hal itu diungkapkan Ekonom senior, Rizal Ramli melalui cuitan di Twitter-nya.

“Perusahaan seperti Vivo itu kecil market sharenya (fringe) sengaja di hadirkan untuk dorong Pertamina agar lebih efisien,”kata Dr. Rizal Ramli di Twitter pribadinya, Rabu 7 September 2022.

“Ternyata dilarang. Harus ikut harus ikut harga monopoli pertamina yang tidak effisien,”lanjutnya.

Rizal Ramli meminta KPPU mengusut hal ini karena ia merasa sudah melanggar UU Anti Monopoli.

"Mana lembaga konsumen, tuntut dong pakai UU Anti Monopoli ?," pungkasnya. (Erfyansyah/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan