Pangkostrad Sebut Kasus Mutilasi Warga Papua Bukan Pelanggaran HAM, Roy Murtadho: Aneh Sekali Pernyataannya

  • Bagikan
Letjen Maruli Simanjuntak ditunjuk sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Pangkostrad Letjen TNI Maruli Simanjuntak mengatakan kasus pembunuhan serta mutilasi terhadap empat orang di Mimika, Papua oleh enam prajurit TNI dari Satuan Brigif R 20/IJK tidak masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat.

Pernyataan Jenderal bintang tiga itu pun langsung dikritisi oleh Roy Murtadho.

“Aneh sekali pernyataannya,” singgung Gusdurian, Roy Murtadho melalui akun Twitter pribadinya, Jumat (16/9/2022).

Pengajar di Pesantren Ekologi Misykat al-Anwar ini juga menginggung soal kasus masa lalu yang pembuhnya dilakukan aparat.

“Pembunuhan disertai mutilasi yang dilakukan anggota TNI hanya dianggap kriminal biasa. Jangan-jangan peristiwa 65 dan semua pembunuhan yang dilakukan oleh aparat dan yang disponsori oleh negara, bisa dianggap hanya kriminal biasa,” papar Roy Murtadhoz

“Pantes. Ngga ada kasus pelanggaran ham berat yang diusut,” tambah Presidium Nasional Partai Hijau Indonesia ini.

Diketahui, Pangkostrad Letjen TNI Maruli Simanjuntak menyebut kasus mutilasi tersebut bukan sebuah pelanggaran HAM dengan alasan pengertian pelanggaran HAM menurutnya adalah pelanggaran yang dilakukan sebuah institusi.

Maruli Simanjntak juga menegaskan, kasus mutilasi tersebut tidak memakai rantai komando maupun menggunakan senjata milik negara. Ia bikang bahwa kasus ini sebatas kasus kriminal biasa.(Arya/Fajar)

  • Bagikan