Hubungan PDIP dan Demokrat Kembali Panas, Saling Sindir Soal Isu Jegal Menjegal di Pilpres

  • Bagikan
Ilustrasi PDIP dan Demokrat

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Rivalitas berulang Demokrat dan PDI Perjuangan selalu muncul saat mau Pilpres. Seteru puluhan tahun atau sejak SBY hengkang dari Kabinet Megawati demi maju Pilpres 2004.

Terbaru rivalitas kedua partai kembali muncul usai Ketum Demokrat AHY menyindir dengan kalimat tukang gunting pita. Lalu Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan politisi lainnya memberi tanggapan.

Melalui konferensi pers virtual Minggu (18/9), Sekjen PDI Perjuangan ini menceritakan pengalaman terkait mantan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali dan kader Demokrat yang juga ipar SBY, Agus Hermanto.

Hasto menceritakan kejadian tahun 2009 atau saat SBY berkuasa dan menjabat sebagai presiden RI.

“Tahun 2009 sebenarnya elite PDI Perjuangan dengan PPP, dengan Pak Suryadarma Ali, sebenarnya sudah merencanakan kerja sama, sehingga kami memenuhi syarat-syarat Presidential Threshold,” katanya.

“Tetapi di putaran terakhir, ada penjegalan, sehingga pada akhirnya PDIP bekerja sama dengan Gerindra,” cerita Hasto.

Belajar dari kejadian itu, PDI Perjuangan mengaku berkomitmen dan menegaskan agar semua pihak jangan ada upaya jegal-menjegal dengan cara demikian dalam berpolitik.

Nah, yang terjadi saat ini, sebuah parpol tak berhasil mengajak parpol lain untuk bekerja sama mengajukan calon, namun membungkusnya seakan-akan ada upaya penjegalan.

Menurut Sekjen PDI Perjuangan ini, Demokrat seakan mencari-cari alasan dengan dalih yang secara fakta otentik tidak dapat dipertangungjawabkan.

“Jadi, apa yang disampaikan Pak SBY sebenarnya menunjukkan kekhawatiran beliau kalau ada dua pasangan calon kemudian Pak AHY enggak bisa masuk sehingga dikatakan itu instrumen penjegalan. Itu yang harus diluruskan,” jelas Hasto.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan