Gaduh dengan Effendi Simbolon, Jenderal Dudung Disebut Langkahi Panglima TNI dan Presiden

  • Bagikan
KSAD Jenderal Dudung Abdurachman--dispenad

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Analis militer dan pertahanan, Connie Rahakundini, menanggapi polemik yang terjadi antara politisi PDIP Effendi Simbolon dan KSAD Dudung Abdurachman.

Connie mengingatkan bahwa kepala staf memiliki fungsi pembinaan, bukan untuk menggunakan kekuatannya sebagai orang militer.

Namun, dalam ucapan Dudung tampak adanya perintah terhadap para prajurit untuk marah terhadap pernyataan Effendi Simbolon.

“Memerintahkan para prajurit, para pamen, para pati, kalau kita dengar videonya semua disebut itu kan sama sudah masuk ke penggunaan,” ujar Connie di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Senin (19/9).

Analis yang juga berprofesi sebagai dosen itu lantas mempertanyakan apakah Dudung menyadari ucapannya tersebut tampak seperti sebuah perintah.

Padahal, dalam TNI, fungsi penggunaan kekuatan ada di tangan panglima dan panglima tertinggi yang dipegang oleh presiden.

Bahkan, untuk menggunakan kekuatannya, TNI harus meminta izin kementerian pertahanan dan Komisi I DPR RI.

“Apakah Pak Kepala Staf Angkatan Darat tidak tahu bahwa penggunaan itu tidak di tangan beliau? Itu ada di tangan Panglima TNI dan Presiden Republik Indonesia sebagai panglima tertinggi. Itu pun harus atas izin kementerian pertahanan dan komisi 1,” ujar Connie.(wartaekonomi/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan