Mengenal Salat Rebo Wekasan di Kalender Jawa, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

  • Bagikan
Ilustrasi salat Rebo Wekasan

FAJAR.CO.ID--Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir bulan Safar pada kalender Jawa. Dalam hal ini masyarakat dari beberapa daerah melakukan beragam aktivitas menyambut hari ini. Rebo Wekasan akan jatuh pada Rabu (21/9/2022) besok.

Adapun aktivitas yang lazim dilakukan diantaranya Zikir/tahlilan, selamatan dengan berbagi makanan dalam bentuk gunungan hingga shalat Iidaf'il bala (tolak bala).

Salah-satunya adalah daerah Yogyakarta. Kegiatan Rebo Wekasan atau Pungkasan digelar di Alun-Alun Jejeran, Wonokromo, Bantul, Indonesia.

Namun, salah-satu rangkaian yakni shalat Rebo Wekasan untuk pengerjaannya beberapa pandangan berbeda sering menjadi persoalan. Ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak.

Jika berbicara tentang dasar hukum yang mengaturnya, sebenarnya tidak ada nash sharih tentang anjuran shalat Rebo Wekasan. Jika didasari niat khusus untuk shalat Rebo Wekasan maka dikatakan tidak sah haram.

Hal ini berdasar pada prinsip kaidah fiqih yang artinya :

"Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah. (Lihat: Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, halaman: 60),".

Sehingga berdasarkan kaidah ini beberapa shalat tidak dianjurkan seperti Shalat Nishfu Sya’ban, Shalat Asyura’, Shalat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab dan Shalat Kafarat di akhir bulan Ramadhan.

Shalat tersebut tidak didasari dengan dasar Hadits dan hukumnya lemah. Sebagaimana telah ditegaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin artinya :

"Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir Jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya. (Lihat: Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, halaman: 270),".

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan