Qahhar Mudzakar, Pagar Hidup Kesayangan Soekarno Asal Sulsel

  • Bagikan
Presiden Soekarno berbicara di Rapat Raksasa Lapangan Ikada. (Wikipedia)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) penuh sesak. Rapat raksasa digelar di lapangan yang terletak di sebelah selatan Lapangan Monumen Nasional (Monas), medio 19 September 1945.

“Dwi tunggal” Soekarno-Hatta kala itu didesak ribuan rakyat untuk berpidato dalam rangka memperingati satu bulan proklamasi kemerdekaan.

Tak mudah bagi "Dwi tunggal" untuk berpidato saat itu. Pasalnya, hunusan bayonet tentara Jepang mengelilingi Soekarno-Hatta.

Melihat hal itu, seorang pria asal Sulsel tak berdiam diri. Ia yang menjadi pengawal kedua tokoh itu maju ke depan.

Bersenjatakan sebilah golok ia kemudian menjadi pagar hidup dan mendesak mundur bayonet- bayonet tentara Jepang yang telah mengepung kedua Proklamator dari Republik yang baru sebulan itu berdiri.

Sosok itu, Abdul Qahhar Mudzakar. Sejak saat itu, ia jadi pengawal kesayangan Bung Karno.

Dikutip dari buku "100 Tokoh yang Mengubah Indonesia", Qahhar Qahhar lahir 24 Maret 1921 di Kampung Lanipa, distrik Ponrang.

Ayahnya bernama Malinrang, keturunan bangsawan yang cukup kaya dan terpandang. Setelah tamat sekolah rakyat di Lanipa, Qahhar melanjutkan studi ke Jawa.

Ia memilih Solo dan masuk Sekolah Muallimin yang dikelola Muhammadiyah. Masa studinya hanya berjalan tiga tahun (1938-1941), kemudian terputus karena ia terpikat dengan perempuan asal Solo yang lalu dinikahinya.

Ia kembali ke Lanipa.

Keluarga besarnya gempar karena ia membawa istri orang Jawa.

Di kampung halaman, Qahhar aktif dalam organisasi kepanduan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, yaitu Hizbul Wathan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan