Soal Jokowi Tiga Periode, Menko Luhut Kembali Singgung Big Data

  • Bagikan
Luhut Binsar Pandjaitan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Agenda akbar pesta rakyat 2024 masih menyisakan satu tahun. Meski demikian, hiruk-pikuknya telah menyibukkan para bakal calon petarung menuju Istana Negara.

Menilik sedikit ke belakang, semangat Presiden Jokowi masih sangat membara dengan musyawarah rakyat yang diadakan para pendukungnya. Dan, respon Jokowi mengejutkan publik dengan mengatakan, itu bagian dari demokrasi.

"Tapi saya kira kan itu orang nanya beliau. Mas, kenapa pengikut banyak masih ada yang usulin bapak 3 periode?. Jawabannya beliau itu kan hak demokrasi mereka. Persis betul jawabannya, orang bilang Jokowi itu dungu, bodoh, itu kan juga hak demokrasi," tutur Luhut, saat menghadiri program Menatap Indonesia Pasca 2024 di Podcast Rocky Gerung.

Menurut Rocky, Presiden harus memberikan edukasi, tidak boleh menuntut 3 periode. Karena konstitusi di Indonesia dengan tegas menyatakan cukup 2 periode.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu menepis. Kata dia, Presiden memang mendorong adanya indikasi 3 periode. Menurut Luhut, yang dia (Jokowi) benarkan adalah kalau rakyat berdiskusi ingin 3 periode, 4 periode itu hak rakyat.

"Dulu mungkin ramai saya bilang big data, orang melihat, baca betul-betul apa yang saya sebutkan. Saya bilang, big data yang ada itu menggambarkan seperti ini. Bahwa ada keinginan rakyat begini," lanjut Luhut.

"Saya hanya terus berpikir, founder-founder kita tuh kok bilang tanpa batas. Tapi itu apakah cocok? ya mungkin perlu kita adakan penyesuaian sana-sini. Kita lihat di tempat lain, di mana Seperti di Jerman, di mana. Kan nggak salah juga," sambungnya.

Luhut kemudian menegaskan dirinya tidak ada niat menjadi Presiden. Hanya saja, Menteri kawakan itu ingin sharing atas pengalaman yang telah banyak dia dapatkan.

"Saya juga tuh nda bodoh-bodoh amat, bisa juga berpikir. Jadi kalau orang terus marah baru dibilang kalau nda sesuai dengan dia nggak boleh dong. Saya kira itu bisa dibicarakan, bisa diomongin, biarlah rakyat itu atau para politisi kita dengan jernih melihat mana sih yang terbaik dengan kondisi sekarang ini," tandasnya. (Muhsin/Fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan