Rakyat Menjadi Tertindas dan Oligarki Semakin Merajalela, Alasan GRBS Solo Desak Jokowi Mundur

  • Bagikan
Ratusan anggota GRBS saat melakukan unjuk rasa di Bundaran Gladag Solo, Jumat (23/09/2022) siang. Foto: Romensy Augustino/JPNN.com

FAJAR.CO.ID< SOLO - Ratusan orang yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Bersatu Soloraya (GRBS) melakukan demonstrasi di Bundaran Gladag, Pasar Kliwon, Solo pada Jumat (23/9).

Massa yang berjumlah ratusan itu meminta Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memakzulkan atau mencopot Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia.

"Secepatnya MPR mencopot Jokowi sebagai presiden, karena dianggap sudah tidak layak dan tidak mampu dalam mengelola tata negara," ungkap Ketua Gerakan Rakyat Soloraya Bersatu Syamsubdin Asrori.

Syamsuddin mengatakan Presiden Jokowi layak turun dari jabatannya. "Kami berusaha menyampaikan aspirasi atas carut-marutnya tata negara," katanya.

Menurut Syamsuddin, ada dua kepentingan besar yang terjadi pada era pemerintahan Jokowi sehingga membuat rakyat menjadi tertindas. Dua kepentingan itu, yakni kepentingan oligarki politik dan ekonomi.

Syamsubdin menjelaskan dinamika dua kepentingan tersebut justru menguntungkan pihak oligarki. Kondisi rakyat makin terpuruk dengan beberapa kebijakan yang baru dikeluarkan, sementara orang-orang kaya atau oligarki makin merajalela.

"Dua kepentingan itu sangat menindas rakyat. Rakyat makin menderita dan orang-orang kaya atau oligarki semakin merajalela," jelasnya.

Dia menambahkan kegiatan unjuk rasa ini adalah suara dari dalam hati berdasarkan catatan keprihatinan dari GRBS.

"Akan kami bacakan agar didengar, Jokowi layak mundur, layak turun tahta, dan layak pulang ke Solo meninggalkan jabatannya," tutur dia.

Berikut secuplik catatan keprihatinan GRSB:

Menyikapi kondisi bangsa dan negara yang makin lama tidak kondusif dengan munculnya beberapa kebijakan pemerintah yang sangat melukai hati rakyat yang sedang dalam proses normalisasi menghadapi bencana Covid-19 serta tidak stabilnya perekonomian rakyat, adanya kenaikan BBM, terutama sembilan bahan makanan pokok.

Kini muncul lagi wacana kenaikan tarif listrik, gas elpiji yang semua itu bakal menjadi beban berat rakyat kebanyakan. GBRS sangat prihatin menyikapi kondisi bangsa dan negara yang carut-marut ini dan berpendapat bahwa Bapak Jokowi sudah layak dinilai tidak mampu mengelola Negera ini sehingga perlu ada perubahan yang mendasar. (jpnn/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan