Rektor Unhas Beri Lima Rekomendasi Soal Kontroversi PT Vale, Salah Satunya Mendesak Pelibatan Universitas untuk Pemetaan Konflik

  • Bagikan
Prof Jamaluddin Jompa

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Jamaluddin Jompa memberi lima rekomendasi soal kontroversi perpanjangan izin tambang PT Vale. Salah satunya, ia rekomendasikan agar universitas dilibatkan dalam pemetaan konflik.

Hal itu disampaikan ahli biologi Unhas ini dalam diskusi yang digelar di Ruang Senat Lantai 2 Rektorat, Unhas, Makassar, Jumat (23/9/2022).

Prof Jamaluddin Jompa menuturkan, kegiatan tersebut digelar pihak Unhas agar bisa melihat kontroversi ini secara objektif dan akademis.

“Kampus harus jadi paling terakhir emosi,” ungkap Mantan Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas ini.

Lima rekomendasi yang diberikan Prof Jamaluddin Jompa soal perpanjangan izin tambang PT Vale yang sempat ditolak tiga gubernur ini menekankan pada aspek kajian dan riset.

Pertama, menurutnya diperlukan kajian khusus proporsi ideal pembagian penerimaan negara.

Sektor pertambangan kata Jamaluddin Jompa, mendorong kerusakan lingkungan, konflik sosial dan kultural yang dirasakan langsung negara. Namun begitu, kontribusi pertambangan menurutnya relatif kecil terhadap negara.

“Kedua, mendesak dilakukan kajian kompherensif mengenai dampak program pemberdayaan masyarakat oleh pihak independen,” jelasnya.

Seanjutnya, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar ini juga mendesak agar dilakukan audit lingkungan secara independen.

“Ini diperlukan, agar semuanya terang menderang,” paparnya.

Tidak kalah penting menurut Jamaluddin Jompa, ia menyinggung soal proporsi saham. Ia merekomendasikan agar terdapat proporsi saham yang diberikan ke pemerintah kabupaten dan provinsi apabila negara memutuskan untuk perpanjangan izin.

Terakhir, Jamaluddin Jompa mendesak untuk dilakukannya pemetaan konfillik di lingkar tambang dengan melibtakan universitas, menurutnya ini penting dan mendesak untuk menemukan persoalan ril di lapangan melalui riset dan aksi kolaboratif.

“Tanpa data kita akan melihat berita yang simpang siur,” tandasnya.
(Arya/Fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan