Calon Petarung Pilpres 2024 Banjir Sanjungan, Faizal: Jangan Lupa Tragedi Gatot Nurmantyo 2019

  • Bagikan
Ilustrasi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Aktivis 98, Faizal Assegaf, mengingatkan para bakal Calon Presiden (Capres) yang diagung-agungkan dan banhak mendapat sanjungan para pengikut garis kerasnya agar mengingat tragedi Gatot Nurmantyo pada 2019 lalu.

"Jgn lupa tragedi Gatot Nurmantyo 2019. Pendukungnya saat itu euforia dgn aneka manipulasi polling di medsos, walhasil kecewa berat," ujar Faizal Assegaf dikutip dari unggahan twitternya, @faizalassegaf (24/9/2022).

Sebagaimana diketahui, niat Gatot maju pada pertarungan Pilpres ternyata tidak berjalan mulus seperti awal dugaan. Meskipun hubungannya dengan Gerindra dan PKS terlihat romantis, terutama karena memiliki visi yang sejalan, namun hal itu ternyata berbuah penolakan baik dari PKS bahkan dari internal Gerindra sendiri.

Ketua DPP Partai Gerindra, Habiburokhman misalnya, tegas-tegas menyatakan, Prabowo-Gatot bukanlah pasangan ideal untuk diusung pada 2019 nanti.

Begitu juga dengan PKS. Seperti yang diketahui, partai Islam itu bahkan mengingatkan Gerindra kalau mereka telah memiliki daftar nama cawapres dari kadernya sendiri. Alasan mendasar lain tidak terealisasinya Prabowo-Gatot lantaran sama-sama punya latar belakang militer.

"Tim yg hebat, sebelum bertarung petakan dulu dinamika politik scr matang. Bkn teriak2 nyapres & bakal menang, faktnya cuma delusi," tegas Faizal.

Faizal menambahkan, pamer prestasi berulang-ulang itu hal yang membosankan. Sebagai pejabat yang diupah oleh rakyat, menurutnya wajib untuk bekerja yang terbaik tanpa modus kampanye.

"Malu kalian, rakyat dgn keringatnya & tanpa upah negara, jauh lebih berprestasi, mrk sabar & tdk hasus kekuasaan. Sebanyak apapun kalian berkumpul, tp cuma keramaian & saling puja-puji, kelak gigit jari," tandasnya.

"Satu org cerdas dgn ketajaman pikiran & ketulusan hatinya, jauh lebih efektif mengubah peta. Pengalaman membuat matang, bkn terjebak kebodohan & kekecewaan berkali-kali. Jgn sombong," sambung Faizal.

Faizal melihat, para bakal Capres beramai-ramai mengejar tiket Capres dengan menghamburkan uang. Meski demikian, melum tentu membuatnya adil dan amanah.

"Rakyat sdh terbiasa membeli mahalnya tiket angkutan umum utk berburu nafkah ketempat kerjanya. Dipijak perbedaan itu, politik transaksional adalah kejahatan," pungkas Faizal. (Muhsin/Fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan