Riri Aprilia Kartin, Korban Penganiayaan Polwan Brigadir IR Didesak Cabut Laporan dan Diancam

  • Bagikan
Riri (baju putih bunga-bunga), bersama Pengacaranya Hamid Caniago (baju batik orange) dan rekannya Afriadi Andika. Foto: Dokumentasi Hamid Caniago

FAJAR.CO.ID, PEKANBARU - Riri Aprilia Kartin (27), korban dugaan penganiayaan oleh oknum Polwan Brigadir IR di Riau mengaku diminta mencabut laporan dan diancam.

Wanita itu pun meminta perlindungan ke Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kota Pekanbaru, Riau. Riri korban penganiayaan Brigadir IR.

Riri mengaku sempat didatangi oleh pacarnya R yang juga adik Brigadir IR setelah kasus dugaan penganiayaan tersebut heboh dan dilaporkan ke SPKT Polda Riau.

"Setelah saya buat laporan, paginya pacar saya, adik Polwan itu datang ke rumah. Dia minta maaf. Meminta tolong cabut laporan dan mau damai secara kekeluargaan," ungkap Riri, Selasa (27/9).

Dia juga menyebut R sempat melontarkan ucapan bernada ancaman jika laporan penganiayaan oleh kakaknya, Brigadir IR dan ibunya YUL tidak dicabut.

"Dia ngomong seperti mengancam. Kalau laporannya dilanjutkan bakal ada dampaknya untuk saya dan keluarga saya nanti. Kami sempat takut, tetapi tetap lanjut," beber Riri.

Setelah laporan diproses polisi, Brigadir IR yang anggota BNNP Riau dan ibunya ,YUL ditetapkan sebagai tersangka.

Kuasa hukum Riri, Hamid Caniago mengaku sudah mendatangi UPT PPA Pekanbaru untuk meminta perlindungan bagi kliennya pada Senin (26/9).

"Saya bersama keluarga korban sudah membuat laporan ke UPT PPA Kota Pekanbaru terkait kasus yang sedang dialami oleh korban saat ini," ujar Hamid kepada JPNN.com, kemarin.

Hamid menyebut Riri tidak ikut ke UPT PPA Kota Pekanbaru karena kondisinya masih sakit dan tidak stabil. "Kami meminta agar korban diberikan pendampingan atas trauma kejadian ini. Untuk teknisnya kita serahkan kepada tim dari PPA,” ucapnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan