Omar Dani Ungkap Keterlibatan Badan Intelijen AS dalam G30S PKI, Soeharto Hanya Diperalat

  • Bagikan
Omar Dhani, kanan, bersama Bung Karno.

Sekitar pukul 07.00 pada 1 Oktober 1965 kata dia, tiba-tiba ada siaran dari RRI tentang gerakan yang menamakan diri G30S. Soekarno dijaga pasukan yang tidak ketahui saat itu mau pulang ke Istana juga tak bisa.

Penulis buku ”Tuhan, Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku” ini mengaku mengeluarkan statement mendukung gerakan yang antirevolusioner itu atas saran Heru Atmodjo.

“Semalam sebelumnya, intel AURI melaporkan bahwa malam itu ada gerakan dari perwira-perwira muda AD terhadap atasannya yang didukung semua bawahan dan sipil dari empat angkatan. Lo, untuk apa? Ternyata akan menculik jenderal-jenderal,” bebernya.

Pria kelahiran Solo 1924 ini mengaku, Soeharto menolak menghadap ke Soekarno pada tanggal 1-4 Oktober 1965.

“Kalau Harto dipanggil nggak datang itu bukan keanehan lagi. Itu artinya menentang atasan, apalagi atas perintah Panglima Tertinggi (Pangti). Ini artinya subordinasi. Kalau dipanggil Panti harus datang, apapun situasinya. Jawaban Harto pada saat itu karena AD sudah kehilangan banyak Jenderal, Kadi dia nggak mau mengambil risiko lagi. Tetapi saya pikir tetap nggak boleh. Kalau A. Yani meninggal, katanya dia terus hendak mengambil alih Panglima AD juga, padahal tidak bisa dilakukan begitu saja,” jelasnya.

Ketika ditanya terkait keterlibatan Soeharto, dia mengatakan, Omar Dani menyebut Soeharto dan Nasution lah yang mengorbankan para jenderal.

“Dua orang. Seoharto dan Nasution. Itu sudah ada rekayasa. Kok tahu-tahu muncul istilah G30S PKI. Sejak kapan? Kok PKI terus disangkut pautkan? Buktinya apa?,” tandasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan