Sebut Rasio Utang Negara Tidak Sehat, Said Didu Bilang Indonesia di Era Jokowi Mirip Korban Pinjol

  • Bagikan
Said Didu

FAJAR.CO.ID, JAKARTA—Mantan sekretaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu menyebut Indonesia di bawah Preiden Jokowi seperti terjerat pinjaman online (pinjol).

“Jadi saya ingin mengatakan, sepertinya Indonesia sudah terjerat pinjaman online,” imbuh Said Didu, dikutip Fajar dari Youtube Channel MSD, Kamis (29/9/2022).

Ia menjelaskan, pinjaman online adalah pinjaman termudah, tapi bisa bikin orang terpaksa menjual motor atau menjual rumah karena kemampuan membayarnya sudah sangat rendah.

“Dan itu sudah terjadi di negara kita,” jelas pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan ini.

Alumni Insitut Pertanian Bogor ini pun menguraikan soal klaimnya menganggap Indonesia seperti terjerat pinjol.

“Satu, jumlahnya (utang) sangat besar, kedua bunganya sudah sangat tinggi. Bunga sekarang hampir 6%.” ungkapnya.

Said Didu memaparkan, jumlah utang Indonesia ini sekitar Rp14.500 triliun, sementara itu kata dia Jokowi menerima utang dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar Rp5.000 triliun.

“Utang BUMN waktu itu diterima 2400 triliun, sekarang hampir sama sekitar 7400 triliun,” paparnya.

Atas perbandingan itu, Said Didu mengungkapkan, pada masa SBY dan Jokowi utang negara meningkat hampir tiga kali lipat.

“Jadi kalau ditotal utang BUMN ditambah utang pemerintah itu mungkin mendekati 14.500- 15.000 triliun. Sementara 2014 diterima itu sekitar 5.000 Triliun. Nah jadi peningkatannya hampir tiga kali lipat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pembayaran bunga cicilan utang Indonesia saat ini hampir 50% menggunakan penghasilan negara. Sementara itu pada 2014 hanya 30%.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan