Cerita Ipda Nining Husumawati Merasakan Perih di Mata, Terlibat Evakuasi dan Beri Suporter Minyak Kayu Putih

  • Bagikan
TULUS: Ipda Nining, salah satu anggota polwan yang ikut menyelematkan suporter saat terjadi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, MALANG -- Penggunaan gas air mata saat penanganan kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, tidak hanya dirasakan dampaknya pada para suporter, tapi juga aparat kepolisian sendiri.

Salah satunya dialami Kepala SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polres Malang, Ipda Nining Husumawati.

Saat gas air mata di tembakkan, Ipda Nining Husumawati mengaku matanya terasa perih. Saat merasakan itu, dia langsung berlari ke toilet tribun VIP Stadion Kanjuruhan untuk mencuci muka.

”Waktu kembali ke tribune, kondisinya mencekam,” kenangnya kepada Jawa Pos kemarin.

Dia menyaksikan para penonton berebut berlari ke luar stadion yang berada di Kabupaten Malang tersebut. Bahkan, ada perempuan setengah baya yang harus dibopong karena tidak sadar.

Nining yang pada Sabtu (1/10) malam lalu menjadi bagian tim pengamanan laga Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya spontan membantunya mencarikan tempat. Dia membawanya ke ruang Dispora Malang yang tembus dengan tribun VIP.

”Balik ke tribune setelah itu, ternyata masih ada yang dibopong lagi sama penonton lain,” ungkapnya.

Empat kali dia terlibat evakuasi serupa. Kondisi korban yang semuanya perempuan disebut parah. ”Usia 30–40 tahunan,” sambungnya.

Mata mereka terpejam. Giginya terkunci sehingga mulutnya tidak bisa dibuka. Kakinya kaku. Tangannya mengepal kencang. Tubuhnya terasa dingin. ”Yang membopong itu temannya. Mereka panik sekali,” jelasnya.

Nining spontan meminta bantuan medis melalui handie-talkie. Tetapi, permintaannya bertepuk sebelah tangan. Suara di seberang menyebut petugas medis terjebak kerumunan penonton di lapangan. Dia dan personel lain akhirnya hanya bisa memberikan pertolongan seadanya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan