DPR Mengadu Domba Aswanto dan Guntur

  • Bagikan
Fajlurrahman Jurdi

Tetapi kita juga tak lupa, bahwa para penguasa yang tenggelam dalam kenikmatan kekuasaanya, kadang-kadang memang tidak bisa berpikir. Berpikir bagi mereka sungguh mahal, karena soal sederhana saja, mulutnya yang bicara, tapi pikiran berhenti. Ini jadi tragedi, karena mereka di parlemen. Tempat orang disuruh “berbicara”, tetapi tak berpikir. Kecepatan Mulut melampaui pikiran, maka sampah semua yang keluar dari mulutnya. Mulut kekuasaan yang tak bisa berpikir.

Renungan

Menurut saya, kisah Aswanto adalah salah satu drama dari tahapan Pemilu 2024. Akan ada banyak tumbal yang berjatuhan sepanjang tahapan Pemilu ini. Aswanto mesti menikmati, bahwa dia berakhir dengan cara terhormat. Ia dipuja karena sikap diamnya. Ia tak berucap dan tak berkomentar apapun.

Saya menghormati sikap Guntur, yang menyelamatkan ide kawannya. Dan dia sadar, bahwa dirinya sedang dijerumuskan ke dalam lembah politik. Sikap Guntur menurut saya adalah sikap yang menyelamatkan MK. Dia sengaja diadu dengan kawan terdekatnya. Tetapi yang mengadu tak berhasil. Keduanya saling menopang, saling mendukung dan inilah sikap kawan yang baik. Bagi mereka yang tidak mengetahui kedua orang ini, dan hanya tau bahwa mereka berdua saat berkuasa, bebas berkomentar. Bebas pula mengadu dan memberi tafsir. Tetapi kami, anak didiknya, teman sejawatnya, menganggap ini sikap akademik yang rumit, saat kekuasaan datang menggempur. Badai kekuasaan kadang bagai tsunami, kadang pula mereka seperti air keruh, merusak kejernihan kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan