Petugas Pengamanan Sebut Penonton VIP dan VVIP Tak Mendapat Tempat Duduk, Polri Beber Alasan Polisi Tembakkan Gas Air Mata

  • Bagikan
ILUSTRASI. Dampak dari kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang menewaskan ratusan orang, sebanyak 25.000 orang sudah menandatangani petisi menolak polisi menggunakan gas air mata. (ISTIMEWA)

FAJAR.CO.ID, MALANG -- Dugaan adanya kelalaian dalam pertandingan yang mempertemukan Arema FC dengan Persebaya Surabaya, hingga berujung tewasnya ratusan suporter makin kuat.

Salah satunya terkait dengan jumlah penonton yang melebihi kapasitas penonton. Salah satu petugas yang bertugas dalam tim pengamanan dalam tragedi Kanjuruhan menyebut ada keanehan di tribun VIP dan VVIP.

”Sebagian besar penonton di tribun VIP dan VVIP tidak mendapatkan tempat duduk,” aku Ipda Nining, Kepala SPKT Polres Malang, Jumat (7/10).

Padahal pada pertandingan sebelum-sebelumnya, para penonton di tribun VVIP mendapatkan kursi untuk duduk. ”Mereka (suporter) naik pagar sampai kami lelah menyuruh turun. Yang ada anggota kami ditantang berkelahi,” ujar Nining.

Dalam tragedi yang berawal dari pertandingan BRI Liga 1 antara Arema vs Persebaya itu, Nining menyebut, dirinya bertugas sebagai pengamanan dalam (pamdal) di tribun VIP dan VVIP.

Dia mengaku baru kali ini melihat tribun yang dia amankan tersebut penuh orang dan berdesak-desakan.

Pengakuan Nining selaras dengan penetapan Ketua Panpel Arema Abdul Haris sebagai tersangka. Abdul ditetapkan sebagai tersangka akibat penjualan tiket yang melebihi kapasitas Stadion Kanjuruhan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut, kapasitas Stadion Kanjuruhan kelebihan 5 ribu orang ketika pertandingan BRI Liga 1 antara Arema vs Persebaya digelar pada Sabtu (1/10).

”Ditemukan fakta juga penonton yang kemarin datang hampir 42.000. Terjadi penjualan tiket over capacity. Seharusnya 38.000 penonton, namun dijual 42.000 (penonton),” ujar kapolri, Kamis (6/10).

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan