Komnas HAM Duga Gas Air Mata Kedaluwarsa Digunakan di Stadion Kanjuruhan, Ini Respons Mabes Polri

  • Bagikan
ILUSTRASI. Dampak dari kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang menewaskan ratusan orang, sebanyak 25.000 orang sudah menandatangani petisi menolak polisi menggunakan gas air mata. (ISTIMEWA)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan gas air mata di Stadion Kanjuruhan Malang yang memicu tewasnya ratusan suporter Arema FC terus menuai perhatian. Belakangan, Komnas HAM menduga gas air mata yang digunakan sudah kedaluwarsa.

Penggunaan gas air mata yang diduga kedaluwarsa inilah yang dinilai Komnas HAM menjadi penyebab banyaknya korban yang berjatuhan, hingga ratusan orang meninggal dunia pada tragedi Stadion Kanjuruhan Malang.

Atas dugaan Komnas HAM itu, Mabes Polri mengaku tengah menyelidiki dugaan tersebut.

“Komitmen Kapolri untuk usut tuntas kasus Kanjuruhan,” kata Kabag Penum Divhumas Polri, Kombes Nurul Azizah saat dihubungi, Senin (10/10).

Kombes Nurul belum bisa membeberkan hasil temuan Komnas HAM terkait adanya dugaan penggunaan gas air mata ini. Sebab saat ini tim di lapangan masih terus bekerja mengusut tuntas kasus tragedi Kanjuruhan Malang tersebut.

“Tim masih bekerja. Jika ada perkembangan akan di update,” pungkasnya seperti dikutip PojokSatu (Jawa Pos Group).

Sebelumnya, muncul dugaan gas air mata kedaluwarsa yang digunakan dalam tragedi Arema pada Sabtu, 1 Oktober 2022 menjadi salah satu yang akan dicermati Komnas HAM.

Dugaan penggunaan gas air mata kedaluwarsa itu menjadi penyebab banyaknya korban atas tragedi tersebut. Sebab akibat dari gas kedaluwarsa itu diduga seseorang akan sulit bernapas, mual, muntah hingga iritasi kulit.

“Penyebab banyaknya kematian itu penting. Kalau melihat dinamikanya, memang gas air mata lah yang menjadi pemicu utama korban berjatuhan,” kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam beberapa hari lalu soal gas air mata kedaluwarsa di tragedi Kanjuruhan Malang. (jpg/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan