Mabes Polri Benarkan Penggunaan Gas Air Mata Kedaluwarsa di Tragedi Kanjuruhan

  • Bagikan
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan kalimat ini saat dimintai komentarnya soal usulan Benny agar Jenderal Listyo Sigit dicopot sementara sebagai kapolri. Foto: Ricardo/JPNN

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Temuan Komnas HAM soal dugaan penggunaan gas air mata kedaluwarsa saat tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur ada benarnya.

Mabes polri akhirnya mengkonfirmasi ada sejumlah gas air mata kedaluwarsa yang ditembakan saat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur terjadi pada 1 Oktober 2022. Temuan tersebut kini tengah didalami oleh penyidik.

“Ada beberapa yang diketemukan (kedaluwarsa), yang tahun 2021 ada beberapa,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/10).

Kendati demikian, Dedi belum menyebutkan jumlah gas air mata yang ditembakkan. “Itu yang masih didalami, tapi ada beberapa,” jelasnya.

Di sisi lain, Dedi menyebut gas air mata kedaluwarsa tidak mematikan. Sebaliknya, saat kedaluwarsa efek atau pun fungsi gas air mata tersebut menjadi berkurang.

Sebelumnya, kerusuhan pecah usai laga Arema Malang melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (2/10). Pertandingan itu berakhir dengan skor akhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya dan menjadi kekalahan kandang pertama Arema dari klub Surabaya itu dalam 23 tahun terakhir.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mencatat data sementara jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi kericuhan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sudah mencapai 131 orang.

Selain korban tewas, insiden kemanusiaan itu melukai lebih dari 700 orang. Para korban mengalami luka-luka karena terinjak, patah tulang, dislokasi, engsel lepas, mata perih, dan kadar oksigen rendah. (jpg/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan