Hutan Sulsel Hilang 20 Persen, Banjir, Longsor hingga Krisis Air Bersih Mengancam

  • Bagikan
Penebangan pohon di kawasan hutan Gunung Bawakaraeng. (IST)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Hutan Sulsel tergerus. Kondisi ini riskan di tengah cuaca ekstrem dan musim hujan bercurah tinggi.

Selain ancaman bencana banjir dan tanah longsor, pada masa depan, Sulsel juga akan mengalami krisis air bersih. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah mengkajinya.

Deforestasi atau pembukaan lahan berlebihan memperparah kondisi hutan. Berdasarkan estimasi dan perhitungan rerata kritis air dapat dilihat dari cepatnya penutupan lahan yang ada di daerah Sulsel.

Kepala Pusat Studi Kebencanaan Prof Adi Maulana mengatakan seberapa cepat bukaan lahan hutan yang ada, akan berbanding lurus dengan krisis air. Juga, bagaimana lahan hijau yang sudah banyak terbetonisasi menjadi perumahan dan bangunan lainnya.

Sayangnya, memang lahan yang tadinya berfungsi sebagai daerah resapan air justru dibabat. Ada juga dalam satu dekade, kebakaran melanda. Seperti di kawasan Gunung Bawakaraeng. Adi tak menampik bahwa krisis air disebabkan oleh adanya perubahan iklim.

Perubahan iklim ini sedikit banyak memengaruhi pola hujan. Pola hujan itu juga akan memengaruhi kondisi air tanah. Ketiga faktor itu, jelas dia menyebabkan masalah kekeringan di Sulsel.

Rata-rata, setiap tahun sekitar 5 persen hutan di Sulsel berkurang. Di beberapa tempat ditengarai volume hutan menurun. Jika dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, data menunjukkan luasnya berkurang sampai 20 persen.

"Ini ada percepatan selama dua dekade terakhir. Itu harus dimonitor, dikoordinasikan agar laju pembukaan lahan terkontrol," saran Wakil Rektor IV Bidang Inovasi Unhas ini.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan