TGIPF Uji Gas Air Mata Kedaluwarsa di Laboratorium, Abdul Haris Bantah Pintu Stadion Tertutup

  • Bagikan
Ketua Panpel Malang Abdul Haris di Kantor Arema FC. (Rafika Yahya/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Temuan bukti-bukti terkait tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur yang menyebabkan ratusan korban tewas dan luka, terus didalami Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF).

Begitu juga tentang temuan bahwa gas air mata yang digunakan polisi menembak ke arah suporter Arema FC ikut didalami. TGIPF melakukan pemeriksaan terhadap bukti gas air mata itu dilaboratorium.

“Misalnya menyangkut dengan kandungan gas air mata apakah kedaluwarsa itu berbahaya atau sejauh mana tingkat kebahayaannya, lebih berbahaya atau tidak berbahaya daripada yang tidak kedaluwarsa,” kata Ketua TGIPF, Mahfud MD di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/10).

Mahfud mengatakan, tim di lapangan memang menemukan adanya gas air mata yang telah kedaluwarsa. Oleh karena itu harus diuji tingkat bahaya atau efek yang ditimbulkan akibat hal itu.

“Tim akan segera melakukan analisis sekaligus menyusun kesimpulan dan rekomendasi, sehingga diharapkan laporannya bisa saya serahkan kepada bapak Presiden pada hari Jumat pekan ini,” jelas Menko Polhukam itu.

Sebelumnya, kerusuhan pecah usai laga Arema Malang melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (2/10). Pertandingan itu berakhir dengan skor akhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya dan menjadi kekalahan kandang pertama Arema dari klub Surabaya itu dalam 23 tahun terakhir.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mencatat data sementara jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi kericuhan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebanyak 125 orang. Data terakhir menyebutkan jika korban jiwa sudah mencapai 131 orang.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan