LPSK Sebut Penggunaan Gas Air Mata Picu Kepanikan hingga Berakhir Kematian

  • Bagikan
Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo. ( Ayu Khania Pranisitha/Antara)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan gas air mata pada tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, menjadi pemicu kepanikan dan konsentrasi massa di pintu keluar, sehingga berakhir dengan kematian.

Kesimpulan tersebut disampaikan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo.

“Penggunaan gas air mata telah menimbulkan kepanikan dan konsentrasi massa di pintu keluar, menyebabkan kurang oksigen, sesak napas, lemas, hingga berakhir kematian. Bahkan, kematian ini juga ada ditimbulkan karena terinjak-injak oleh penonton yang lain,” kata Hasto dalam Konferensi Pers LPSK terkait Tragedi Kanjuruhan Malang, disiarkan di kanal YouTube infolpsk, dipantau dari Jakarta, Kamis (13/10) dikutip dari Antara.

Hasto mengungkapkan, penyelenggara tidak melaksanakan simulasi pengamanan pra pertandingan, sehingga patut diduga penyelenggara tidak siap menghadapi situasi yang terjadi pada 1 Oktober 2022 tersebut.

“Kedua, penyelenggara pertandingan tidak mematuhi peraturan PSSI Pasal 21 dan Pasal 22, ketiga, aparat keamanan tidak mematuhi peraturan FIFA Pasal 19,” ucap Hasto.

Peraturan ini, tutur Hasto melanjutkan, tentang larangan untuk membawa ataupun menggunakan senjata api maupun gas, termasuk gas air mata.

“Bahkan, kita mendengar bahwa Kapolres tidak tahu ada larangan itu dari FIFA,” ucap Hasto.

Saat membahas fasilitas stadion, Hasto mengatakan bahwa meskipun pintu keluar stadion terbuka, namun tidak mumpuni sebagai jalur bagi penonton atau massa yang berjumlah besar untuk keluar dari stadion pada waktu yang bersamaan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan