Korban Tragedi Kanjuruhan Periksa Mata kepada Dokter Spesialis, Diagnosis Ternyata Mengerikan

  • Bagikan
Pengacara Aremania temukan hasil pernyataan berbeda terkait mata merah terhadap para korban gas air mata Tragedi Kanjuruhan. Foto: Ridho Abdullah/JPNN.com

FAJAR.CO.ID, MALANG -- Korban tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur terancam buta. Hingga kini, mata sejumlah korban itu belum juga sembuh meski sudah berlalu dua minggu.

Pengacara Aremania, Anjar Nawanyuski mengakui jika korban Tragedi Kanjuruhan yang mengalami sakit mata akibat gas air mata terancam buta.

Semula, Anjar menyatakan bahwa banyak temuan dari pihaknya yang sebenarnya berbeda dengan pernyataan pemerintah. Sebagai contoh, mata merah yang disebutkan bakal kembali normal dua minggu setelah kejadian, tetapi sampai sekarang belum sembuh juga.

Menurutnya, pernyataan dokter di salah satu rumah sakit Kabupaten Malang bermasalah. Pasalnya, hasilnya bertolak belakang dengan keterangan para korban saat kejadian.

"Dokter itu bilang mata merah karena diinjak-injak. Setelah kami tanyai korban, ternyata tidak pernah terinjak pada bagian wajah," tuturnya.

Maka dari itu, pihaknya pun berinisiatif membawa korban ke dokter spesialis sebagai second opinion.

Hasilnya, dokter spesialis memberikan diagnosis yang sangat berbeda dengan keterangan medis dokter yang ditunjuk pemerintah.

Gejala mata merah tersebut disebutkan akibat pecahnya pembuluh darah akibat zat yang mengiritasi mata dan kornea korban.

“Jika berdampak parah di bagian korneanya, bisa mengakibatkan cacat permanen alias buta,” katanya.

Untuk data sementara, para korban bergejala mata merah yang melapor ke Posko Pengaduan Aremania sebanyak 300 orang. (jpnn/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan