Buah Biccoro (Karamunting), Buah Parakang (Hantu) dan Ular yang Kaya Manfaat

  • Bagikan
Buah Biccoro alias Senggani, tumbuh liar di semak-semak namun ternyata harga buahnya mahal.

Oleh: Dul Abdul Rahman
(Penulis, Dosen, dan Budayawan)

Salah satu buah favorit semasa kecil dulu di Desa Kalobba, Sinjai, adalah BICCORO (buah karamunting/kemunting) dalam bahasa Indonesia disebut Senggani. Pohon ini sebenarnya tanaman liar alias ‘tanaman tak dirindukan. Itulah sebabnya, pohon ini hanya bisa ditemukan di tanah yang belum digarap.

Umumnya, BICCORO tumbuh di tebing-tebing, pinggir sungai, atau tempat-tempat lainnya yang tidak menjadi tanah garapan. Oleh ayah dan orang-orang tua dulu di kampung, saya dilarang mendekati buah ini. Katanya, buah favorit ular dan parakang (hantu). Parakang bisa menjelma ular, ular adalah salah satu wujud parakang yang paling berbahaya. Begitu kata mereka.

Suatu ketika, saya bersama nenek melewati suatu tempat yang ditumbuhi banyak BICCORO.

“Makanan ular dan parakang, Nek!” kata saya saat nenek mengambil beberapa buah BICCORO dan memberikan kepadaku.

“Yang makanan ular dan parakang hanyalah yang tumbuh di tebing-tebing terjal dan pinggir sungai yang dalam, Nak. Sedangkan yang tumbuh di pinggir jalan tidak disuka oleh mereka,” jawab nenek sambil memakan BICCORO.

Saya pun tergoda, lalu mencobanya. Mulai saat itu, saya menyukai BICCORO. Saya pun bertanya kepada guru di sekolah apakah BICCORO makanan ular. “Ular adalah hewan karnivora, jadi tidak mungkin makan buah-buahan,” jawab sang guru yang semakin membuatku menyukai BICCORO.

Suatu ketika, sepulang dari kebun, saya berjumpa dengan rombongan anak-anak yang ingin berenang di sungai. Saat itu saya menyapa mereka. Tapi, mereka bereaksi di luar dugaan saya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan