Carilah Penyelesaian Masalah Balita Stunting Melalui Pendekatan Keluarga dan Penerapan Nilai-Nilai Islam

  • Bagikan

Oleh: Minsarnawati

Stunting pada anak bukan kejadian akut, tetapi peristiwa kronik yang dimulai sejak anak dalam kandungan ibunya. Balita stunting atau balita ‘pendek’ adalah balita dengan panjang atau tinggi badan tidak sesuai dengan usianya. Normalnya, pertumbuhan tinggi badan seiring dengan pertambahan umur. Sebagian besar balita ‘pendek’ mengalami gagal tumbuh pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

Tingginya kasus stunting yang disebabkan kurangnya asupan gizi tidak lepas dari problem kemiskinan. Anak nelayan tidak biasa mengonsumsi ikan segar karena ikannya terpaksa dijual ke pasar agar dapat membeli bahan pangan lain yang dibutuhkan. Ibu dipaksa membanting tulang ketika sedang hamil dan menyusui. Akibatnya ibu mengalami kelelahan fisik dan mental sehingga dapat memengaruhi kualitas pertumbuhan janin serta menurunkan kualitas dan kuantitas ASI yang sangat dibutuhkan bayi.

Kejadian stunting balita dipengaruhi oleh unsur masyarakat terkecil, yaitu keluarga dan lingkungan masyarakat sebagai unsur yang lebih luas. Lingkungan keluarga berpengaruh terhadap asupan makanan, baik pada ibu maupun balita. Lingkungan terkecil ini juga menstimulasi munculnya faktor risiko lain yang secara langsung berdampak pada kejadian stunting, seperti penyakit infeksi dan pola asuh. Keluarga memiliki peran krusial untuk pencegahan dan penanganan masalah stunting. Karena itu, upaya pemberdayaan keluarga pun sangat diperlukan untuk mencegah stunting pada setiap fase kehidupan anak.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan