Saiful Mujani Kritik Keras Proses Pemilihan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Demokrat Desak Menag Beri Penjelasan

  • Bagikan
Saiful Mujani

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Ilmu Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Saiful Mujani mengkritik sistem pemilihan rektor di kampusnya itu.

Dia mempertanyakan alasan penyeleksian calon rektor di Hotel Sangri-La Surabaya hingga yang diseleksi maupun yang menyeleksi

“Dapat kabar, seleksi calon rektor UIN Jakarta akan diadakan di Hotel Sangri-La Surabaya. Calon yang akan diseleksi juga semuanya dari Ciputat. Tim yang nyeleksi juga hampir semua dari Depag Jakarta mengapa di Sangri-La Surabaya, bukan di depag Jakarta/di UIN Ciputat?,” ucapnya dalam unggahannya di Twitter, belum lama ini.

Dia memaparkan, prosedur pemilihan rektor di UIN atau di bawah Depag pada intinya tak ditentukan oleh pihak UIN sendiri seperti oleh senat, melainkan oleh menteri agama seorang diri.

“Mau-maunya Menteri aja mau milih siapa. UIN dan senat universitas tidak punya suara. Ini seperti lembaga jahiliah,” tutur pendiri lembaga survei SMRC ini.

Lebih jauh dia membeberkan, pihak senat UIN hanya mencatat siapa yang daftar dan menenuhi syarat.

Mekanismenya, hasil inventaris senat diserahkan oleh rektor ke Depag untuk diseleksi oleh tim. Tim ini kemudian memilih berapa nama untuk diajukan ke menteri. Lalu menteri sendiri yang milih.

Menurutnya transparansi tak nampak, kasak kusuk lobby alternatifnya.

“Sebagai guru di kampus ini malu rasanya. saya pernah bersuara agar pemilihan rektor dengan cara jahiliah itu diboikot saja. Tapi enggak ada yang dengar,” tuturnya.

“Sebelum kebijakan cara pemilihan rektor seperti sekarang, rektot UIN/IAIN dipilih oleh senat guru besar, dan telah melahirkan rektor-rektor yang kami hormati, banggakan, dan cintai seperti Prof Harun nasution, Prof Quraish Shihab, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Komaruddin Hidayat,” tandasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan