Sri Mulyani Sebut Realisasi Belanja Negara hingga Oktober Capai 75,7 Persen, Naik 14,2 Persen

  • Bagikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan gejolak harga pangan dan energi kemudian mendorong terjadinya inflasi tinggi. Bahkan, sifatnya akan lebih permanen hingga 2024. (YouTube Sekretariat Presiden)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi belanja negara hingga Oktober mencapai Rp 2.351,1 triliun atau 75,7 persen dari target pagu dalam APBN 2022. Realisasi ini tercatat naik sebesar 14,2 persen dibandingkan dengan belanja negara pada periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp 2.958,9 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, melalui belanja negara dan pembiayaan investasi. APBN dalam hal ini telah berperan sebagai shock absorber yang artinya telah melindungi masyarakat, mendukung sektor prioritas dan mendorong pemulihan ekonomi.

“Belanja negara sampai dengan akhir Oktober mencapai Rp 2.351,1 triliun. Ini adalah cermin poin dari APBN KITA sebesar 75,7 persen dari total belanja yang sudah ada di UU APBN,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (24/11).

Bendahara negara merinci, belanja negara hingga Oktober terdiri dari belanja K/L sebesar Rp 754,1 triliun atau 79,7 persen. Anggaran ini dimanfaatkan untuk penyaluran berbagai bansos dan program PEN ke masyarakat. Lalu, pengadaan peralatan atau mesin, jalan, jaringan, irigasi, belanja pegawai termasuk THR dan Gaji ke-13 dan kegiatan operasional K/L.

Ia juga mengatakan bahwa belanja non K/L tercatat lebih besar dari belanja K/L. Hal ini tercatat untuk belanja non K/L sebesar Rp 917,7 triliun atau telah mencapai 67,7 persen.

“Dominasi sangat besar utamanya didukung untuk penyaluran subsidi, kompensasi BBM dan listrik. Sementara yang relatif kecil untuk pembayaran pensiun (termasuk THR dan pensiun 13) serta jaminan kesehatan ASN,” rincinya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan