Setiap Hari Indonesia Berutang Rp1,9 Triliun, Prastowo Yustinus Singgung Kepercayaan Dunia

  • Bagikan
Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo. Foto: Dokumentasi pribadi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Prastowo Yustinus membalas komentar kritikus Tifauzia Tyassuma soal utang yang naik menjadi Rp7.496,7 Triliun per November 2022.

Prastowo mengatakan, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyampaikan, posisi utang Indonesia masih aman dengan indikator yang berlaku dan khalayak internasional mengakui itu.

Dia menjelaskan, mengapa Indonesia tetap harus berutang. Hal itu kata dia tidak terlepas untuk upaya mengejar kemajuan negara lain, menciptakan akselerasi pembangunan nasional, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah mengambil kebijakan fiskal ekspansif.

Kebijakan fiskal ekspansif adalah kebijakan yang posisi Belanja Negara lebih besar daripada Pendapatan Negara sehingga menimbulkan konsekuensi yaitu defisit anggaran. Untuk menutupnya, dibutuhkan pembiayaan, antara lain berupa instrumen utang.

“Utang menimbulkan risiko, maka harus dikelola secara hati-hati, sustain, dan tentu sesuai aturan perundangan. Setiap pertumbuhan utang harus diselaraskan dengan pertumbuhan PDB nominal, UU 17/2003 mengamanatkan rasio utang Pemerintah adalah max 60% dari PDB. Ini pedoman kita,” ucapnya dalam unggahannya, Rabu malam, (7/12/2022).

Dalam UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan agar defisit APBN terus dijaga di bawah 3 persen PDB.

Alumnus STAN ini mengemukakan, pada 2017-2019 pemerintah berhasil mengendalikan defisit APBN dalam batas aman dengan realisasi berturut-turut 2,51 persen; 1,81 persen; 2,20 persen terhadap PDB.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan