Nilai Serupa Orde Baru Soeharto, Syahrial Nasution Tuding Bambang Soesatyo Penumpang Gelap Reformasi

  • Bagikan
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution menuding Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), sebagai penumpang gelap reformasi.

Tudingan itu dialamatkan kepada Bamsoet setelah politikus Golkar tersebut menggulirkan kembali wacana penundaan pemilu 2024, dengan alasan ketidakpastian kondisi sosial dan tingkat kepercayaan publik kepada pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin tetap tinggi.

Syahrial Nasution juga menilai, wacana penundaan pemilu itu sebagai upaya pengkhianatan terhadap amanat reformasi. Sebab, pembatasan masa jabatan Presiden telah diatur dalam konstitusi.

“Saya menduga, orang-orang yang selalu meniupkan ide soal penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden adalah penumpang gelap reformasi. Tidak taat konstitusi dan haus kekuasaan,” kata Syahrial Nasution dalam keterangannya, Jumat (9/12).

Syahrial lantas mencontohkan, saat presiden masih menjadi mandataris MPR pada 1998 silam, Ketua MPR, Harmoko adalah yang paling getol mengompori supaya Soeharto kembali menjabat sebagai presiden. Karena itu, ketika Bamsoet menyuarakan hal tersebut, serupa seperti era orde baru Soeharto.

“Saya kira, pertanyaan Ketua MPR saat ini yaitu Pak Bambang Soesatyo dengan justifikasi hasil survei agak mirip dengan yang terjadi pada 1997-1998 menjelang kejatuhan Soeharto,” ungkap Syahrial.

Terlebih, kala itu Ketua MPR Harmoko juga menjabat sebagai Ketua Umum Golkar. Partai yang saat ini juga menaungi Bambang Soesatyo.

“Tentu tidak ada kaitannya. Namun ada fakta kemiripan sejarahnya,” papar Syahrial.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan