Infertilitas: Stigma Negatif di Kalangan Perempuan Indonesia

  • Bagikan
Eddyman W Ferial

Oleh: Eddyman W Ferial
(Dosen Biologi Unhas)

Setiap pasangan suami istri mengharapkan kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya. Memiliki anak merupakan salah satu tujuan pernikahan yang dapat menambah kebahagiaan setiap pasangan suami istri. Namun, tidak semua pasangan suami istri bisa langsung merestui keluarga dengan dikaruniai seorang anak. Bahkan tidak sedikit pasangan yang tidak memiliki anak setelah bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun menikah. Kondisi ini sering disebut infertilitas/kemandulan (sulit punya anak).

Infertilitas adalah penyakit pada sistem reproduksi yang ditandai dengan ketidakmampuan pasangan untuk hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual atau kontrasepsi tanpa kondom. Infertilitas dibagi menjadi dua yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Infertilitas primer terjadi ketika pasangan tidak pernah memiliki anak bersama atau tidak hamil sama sekali. Infertilitas sekunder adalah pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, namun mengalami kesulitan untuk hamil lagi atau memiliki anak lagi. Infertilitas merupakan gangguan pada sistem reproduksi yang dapat dialami baik oleh pria maupun wanita. Di Indonesia angka kejadian infertilitas sekitar 10-15% atau 4-6 juta pasangan dari 39,8 juta pasangan usia subur membutuhkan penanganan infertilitas untuk akhirnya memiliki anak.

Penyebab infertilitas pada pria diakibatkan oleh gangguam kesuburan yang dapat dibagi menjadi tiga faktor yaitu (1) Faktor Pretestikular umumnya berkaitan dengan gangguan hormonal yang dapat mempengaruhi pembentukan sperma (2) Faktor testikular merupakan gangguan yang terjadi pada testis sehingga mengganggu pembentukan sperma, (3) Faktor Post testikular terjadi di luar testis setelah spermatozoa keluar dari tubukus seminiferus. Sedangkan, infertilitas pada wanita dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (1) Gangguan Hormonal, (2) Endometriosis, (3) Polycystic Ovary Sindrom, (4) Penyumbatan atau kerusakan pada tuba Falopii (tuba non paten), (5) Alergi sperma/ASA tinggi.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan