37 Tahun Lalu, “Sang Proklamator dari Timur” Mengembuskan Nafas Terakhirnya

  • Bagikan

37 tahun lalu, 3 Januari 1986, jenazah seorang petani di desa terpencil di Suwawa, Gorontalo, terbujur kaku. "Sang Proklamator dari Timur" ini mengembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan berkumandangnya azan salat Jumat. Sosok itu, Nani Wartabone.


Patung Nani Wartabone berdiri kokoh di Lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo. Tangan kanan patung itu menunjuk ke arah tanah kelahiran Nani Wartabone di Desa Bube, Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo sedangkan tangan kirinya menenteng senapan panjang.

Patung itu didirikan pada 1988 untuk mengenang perjuangan masyarakat Gorontalo dalam melawan penjajah dibawah Kepemimpinan Nani Wartabone.

Kini patung itu menjadi Monumen Tilongolo Nani Wartabone.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Mulyono, saat itu, meresmikan Monumen Nani Wartabone tersebut, pada Rabu (12/9/2018) malam.

Dalam sambutannya, Mulyono mengenang perjuangan Nani Wartabone yang merupakan pejuang asli gorontalo.

“Dalam usia muda, Pak Nani Wartabone sangat mempunyai cita-cita untuk memerdekakan Gorontalo, bahkan sebelum Indonesia merdeka,” jelas Mulyono.

Sekadar diketahui, tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, Nani Wartabone merupakan sosok proklamator kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada 23 Januari 1942. Peristiwa itu dikenal dengan Hari Proklamasi Gorontalo.

Putra kelahiran Gorontalo pada 30 April 1907 itu berjuang melawan penjajahan di daerahnya pada masa perjuangan kemerdekaan.

Ia dikenal aktif berorganisasi. Bahkan, ia berjuang dan mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Pada 1928, Nani Wartabone kembali ke kampung halamannya dan membentuk perkumpulan tani (hulanga).

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan