Benteng Fort Rotterdam: Mengurai Sejuta Kisah Bangunan Tua di Pesisir Kota Makassar

  • Bagikan
Benteng Fort Rotterdam (foto: Pram/fajar)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Kota Angin Mamiri, begitulah julukan yang disematkan kepada Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar.

Tidak kalah dengan kota besar lainnya di Indonesia, denyut nadi kehidupan Makassar masih sangat terasa hingga malam hari.

Hingar bingarnya lampu kota menandakan kalau kota ini makin eksis di Indonesia.

Tetapi di tengah itu semua Makassar juga menyimpan peradaban sejarah yang sangat berkesan. Wisata sejarah juga menjadi daya tarik di kota ini.

Salah satunya adalah museum yang menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Makassar pada zaman penjajahan dahulu. Namanya Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam.

Sejarah Benteng Fort Rotterdam

Benteng ini sejatinya merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang terletak di tepi pantai sebelah barat kota.

Benteng yang berdiri sejak 1545 ini dibangun oleh Raja Gowa ke-10 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung.

Pada awal berdirinya, benteng ini dibangun dengan unsur material menggunakan tanah liat. Namun pada 1634, Sultan Alauddin merubah materialnya menjadi batu padas dari Pegunungan Karst di daerah Maros, Sulawesi Selatan.

Mulanya benteng ini berbentuk persegi empat seperti ciri khas benteng portugis lainnya.

Namun semenjak kerajaan Gowa-Tallo yang dipimpin Sultan Hasanudin mengalami kekalahan atas VOC di bawah pimpinan Admiral Cornelis Janszoon Speelman pada 18 November 1667, maka Sultan Hasanudin menandatangani Perjanjian Bongaya, yang salah satu pasalnya mewajibkan pihak kerajaan menyerahkan benteng ini kepada Belanda.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan