Dunia Sorot Tiongkok, 60 Ribu Warganya Meninggal sejak Pembatasan Covid-19 Dicabut

  • Bagikan
MAKIN PARAH.Pelancong dari penerbangan Xiamen Airlines tiba di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand, Senin, 9 Januari lalu. Keputusan Tiongkok mencabut pembatasan Covid-19, menuai kecemasan dunia. Apalagi, angka kematian cukup tinggi kuruan Desember-Januari ini. (Jack TAYLOR/AFP)

FAJAR.CO.ID, BEIJING-- Tiongkok mesti jujur. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memintanya transparan.

Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu merilis data angka kematian akibat Covid-19 pascapencabutan kebijakan nol kasus. Jumlahnya jauh di atas data yang dipaparkan selama ini.

Sebelumnya, Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Tiongkok merilis hanya ada 37 kematian pada 8 Desember 2022 lalu. Jumlah tersebut dinilai tidak sesuai kondisi di lapangan. Banyak rumah sakit, rumah duka dan tempat kremasi kewalahan.

Nah, Sabtu (14/1) lalu, akhirnya Komisi Kesehatan Nasional (NHC) Tiongkok mengungkapkan bahwa jumlah korban meninggal karena Covid-19 mencapai 59.938 orang. Hampir menyentuh 60 ribu jiwa.

Jumlah tersebut terhitung mulai 8 Desember 2022-12 Januari 2023 atau hanya sebulan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.503 orang meninggal karena gagal napas akibat infeksi Covid-19.

Sedangkan 54.435 orang lainnya meninggal karena terinfeksi Covid-19, sekaligus memiliki penyakit bawaan seperti kanker dan penyakit-penyakit kardiovaskular. Infeksi virus korona memperburuk kondisi mereka sebelum akhirnya meninggal.

Menurut Kepala Departemen Urusan Medis NHC Jiao Yahui, kunjungan ke klinik khusus deman dan rawat inap kasus Covid-19 di Tiongkok sudah mencapai puncaknya pada 23 Desember 2022. Saat itu, jumlah kunjungan mencapai 2,86 juta orang. Saat ini, trennya menurun.

’’Pada 12 Januari, sebanyak 477 ribu orang mengunjungi klinik demam di seluruh Tiongkok,’’ ujar Jiao seperti dikutip CNN.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pasien yang menjalani rawat inap mencapai puncaknya pada 5 Januari. Totalnya 1,63 juta orang. Lalu, pada 12 Januari, jumlahnya turun tinggal menjadi 1,27 juta orang.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan