China dan Korut Mulai Mengintimidasi, PM Jepang Sebut Asia Timur Bisa Jadi ‘Ukraina’

  • Bagikan
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berbicara dalam konferensi pers di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, (4/10/2021). Foto: ANTARA/Toru Hanai/Pool via REUTERS/pri

FAJAR.CO.ID, TOKYO-- Semua negara harus mendorong perdamaian. Itu syarat menciptakan keamanan.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, mengatakan Asia timur bisa menjadi "Ukraina" selanjutnya menyusul intimidasi China dan Korea Utara di kawasan tersebut.

Pernyataan itu diutarakan Kishida saat bertemu Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Washington pada pekan lalu. Lawatan Kishida ke AS itu menutup turnya keliling negara G7, kecuali Jerman, menjelang keketuaan Jepang dalam di kelompok itu tahun ini.

Kishida mengaku sangat khawatir terkait situasi keamanan di Asia Timur yang belakangan semakin panas karena ada percobaan perubahan status quo dengan kekuatan paksa di sekeliling Jepang seperti Laut China Timur dan Laut China Selatan.

"Ukraina bisa menjadi [seperti] Asia timur di masa mendatang," kata Kishida dilansir CNN Indonesia yang mengutip VOA.

Ia kemudian berujar, "situasi di sekitar Jepang semakin parah dengan upaya mengubah status quo secara sepihak menggunakan kekerasan di Laut Cina Timur dan Laut China Selatan."

Pernyataan Kishida merujuk pada agresivitas China terhadap Taiwan dan aktivitas militer Beijing di Asia Pasifik. Ia juga menyebut provokasi nuklir dan rudal Korea Utara yang terus mengancam di kawasan Asia timur.

Pada Agustus 2022, China meluncurkan lima rudal yang mendarat di perairan Jepang. Aksi ini disebut sebagai peringatan Beijing ke Tokyo yang dianggap mendukung Taiwan.

Di bulan yang sama, China meluncurkan 11 rudal Dongfeng ke perairan dekat Taiwan. Ketika itu, Beijing mengklaim tengah menggelar latihan militer di sekitar pulau tersebut.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan