Penculik dan Pembunuh Bocah di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Begini Penjelasan Pakar Hukum

  • Bagikan
FOTO: MUHSIN/FAJAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Pakar Hukum dan Kriminologi Universitas Negeri Makassar, Prof Heri Tahir, menilai, kasus penculikan dan pembunuhan bocah 11 tahun di Makassar memang pembunuhan berencana.

Dikatakan Prof Heri, korbannya memang sudah menjadi target sejak awal. Sepengetahuannya, pelaku utama A (17) sudah lama membaca informasi perdagangan organ tubuh, dan mendapati anak umur 11 tahun harganya paling mahal.

"Artinya memang sudah terencana. Dan perkembangan baru, ternyata MF itu sudah dewasa meskipun masih SMA," ujarnya kepada fajar.co.id, pada Selasa (17/1/2023).

Terhadap pelaku MF, menurut guru besar hukum UNM tersebut, yang bersangkutan tidak bisa diterapkan sistem Pidana Anak Undang-Undang Nomor 11, dan 12, anak sebagai pelaku. Sebab, dia sudah dewasa.

"Penyidik itu mekanismenya, diajukan ke penuntut umum. Nanti penuntut umum akan melakukan penelahaan apakah memang memenuhi pasal yang ditentukan penyidik," katanya.

Misalnya, dalam kasus ini penyidik menjerat pelaku dengan pasal 340 junto 338 dan junto 170, kekerasan terhadap orang yang dilakukan secara bersama.

"Apa yang penyidik jeratkan pasalnya sah-sah saja. Kalau memang tidak terbukti perencanaan paling pembunuhan biasa. Yang paling rendah itu 170," terangnya.

Sementara untuk Adrian, jelas Prof Heri. Yang bersangkutan masih di bawah umur. Artinya, dia akan menghadapi konsekuensi Undang-Undang Pidana Anak. Tidak boleh diberikan hukuman mati dan seumur hidup.

"Yang di bawah umur, tidak dapat diberikan hukuman mati atau penjara seumur hidup. Tentunya berbeda sebentar posisinya ketika sudah di atas 18 tahun. Bukan lagi anak, tentu pidana mati dan seumur hidup itu bisa saja," tegasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan