Tuntutan Timpang Kasus Sambo, JPU Tidak Reken Keterangan Eliezer

  • Bagikan
Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Bharada Richard Eliezer alias Bharada E di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (18/10). Foto: Ricardo/JPNN.com

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-- Hukum dan nurani publik kembali diperhadapkan. Ada rasa ketimpangan dalam tuntutan terhadap para pelaku.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut lima terdakwa dengan ancaman hukuman berbeda. Ferdy Sambo seumur hidup; Putri Candrawathi, Kuat Ma'ruf, dan Ricky Rizal Wibowo masing-masing delapan tahun.

Terakhir, Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, mendapat tuntutan 12 tahun penjara. Situasi ini melukai rasa keadilan publik. Terlihat cukup timpang, mengingat peran penting Eliezer dalam mengungkap kasus ini dengan menjadi justice collaborator (JC).

Peran Eliezer dalam kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) memang sebagai eksekutor, namun posisinya dalam tekanan kala itu. Jika tak membunuh, dia yang dibunuh. Sementara Putri dan Kuat, menjadi pihak yang memicu dan memprovokasi kasus berdarah ini.

"Seyogianya tuntutan (Kuat) Ma'ruf dan Putri sama 12 tahun," ucap Rahman Syamsuddin, Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Kamis, 19 Januari.

Rahman menilai tuntutan JPU kurang tepat. Berbanding jauh. Jika melihat kedudukan, mereka sama-sama turut melakukan atau biasa dikenal istilah "turut serta".

Kata turut serta dalam tindak pidana berarti adalah orang yang turut melakukan atau bersama-sama melakukan tindak pidana. Setidaknya harus ada dua orang yang bekerja sebagai orang yang melakukan dan yang ikut melakukan.

Sehingga bisa dikatakan bahwa orang yang penyertaan atau turut serta dalam tindak pidana dengan orang yang membantu melakukan, sama-sama menjadi pelaku dari tindak pidana tersebut.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan