Kemiskinan Timpang Kota-Desa, Dua Kali Lipat Orang Susah Tinggal di Perdesaan

  • Bagikan
grafis ketimpangan angka kemiskinan di Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR--Ada ketimpangan angka kemiskinan di desa dan kota. Perlu kebijakan khusus agar ekonomi merata.

Secara umum, kemiskinan perdesaan dua kali lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Bahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menujukkan, kota-kota di Sulsel memiliki angka kemiskinan terendah dibandingkan daerah lain.

Makassar dan Paraepare, contohnya. Dari sisi komparasi peresentase populasi miskin, kedua kota ini relatif lebih mampu menekan angka kemiskinan. Hanya saja, ini tentu akan berbeda ketika disandingkan dengan angka riil warga miskin.

Data yang dirilis Januari 2023, populasi kemiskinan di perkotaan Sulsel sebesar 207,81 ribu jiwa atau 4,98 persen. Sedangkan angka kemiskinan perdesaan mencapai 574,51 ribu jiwa atau 11,81 persen dari populasi penduduk Sulselsebanyak 9.225.747 jiwa.

Ini mengindikasikan, kebijakan antara perkotaan dan perdesaan, masih belum senapas. Kota mampu mengurangi angka kemiskinan lebih cepat dibandingkan perdesaan. Peran pemerintah daerah dan sektor lain penting untuk menekan ketimpangan ini.

"Akselerasi perkembangan ekonomi itu jangan hanya bergerak di kota," jelas Dr Bahtiar Maddatuang, analis ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Akademi Manajemen dan Koperasi (AMKOP), Makassar, Selasa, 24 Januari.

Jika melihat tren kemiskinan yang menumpuk di perdesaan, ini terjadi lantaran tak meratanya kebijakan ekonomi. "Harus turun sampai ke desa, sehingga impact dari akselerasi ekonomi bisa dirasakan sampai di desa," sambungnya.

Pemulihan ekonomi di desa juga cenderung lebih lamban, akibat mobilitas yang berbeda antara dan desa dan kota. Karena itu, diperlukan pengembangan ekonomi di tingkat desa, sama fokusnya di perkotaan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan