Panrita, Siri, Pengkhianatan, dan Pelacuran Kaum Intelektual

  • Bagikan
Ilustrasi perahu Phinisi. (Dok. FAJAR)

Oleh: S. Andi – Mangga

Anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kota Bandung, Jawa Barat

Kata Panrita dan Siri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sangat asing. Tetapi bagi masyarakat yang lahir, berasal, dan pernah bertugas di Provinsi Sulawesi Selatan, maka kedua kata ini tidak asing bagi mereka, bahkan sangat akrab dan mempunyai makna yang sangat mendalam. Tak mudah mencari padanan yang tepat kedua kata ini dalam Bahasa Indonesia. Istilah ini mungkin dapat disinonimkan dengan kata Cendikiawan/intelektual, yaitu orang cerdik, pandai, orang intelek dan orang yang memiliki sikap hidup yang terus menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui, memahami dan peduli terhadap lingkungan kehidupan.

Panrita dan Siri merupakan kata atau istilah yang berasal dari Bahasa Bugis. Keduanya mempunyai makna dan nilai yang mendalam dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Seorang Panrita harus memiliki sifat siri, sebaliknya seseorang yang memiliki sifat siri mendorong mereka bertingkah laku sebagai Panrita.

Panrita dalam bahasa Bugis adalah orang atau sekelompok orang yang mempunyai modal intelektual, ilmu, rendah hati, moral dan rochani (toacca) memadai yang berfungsi pengambil keputusan, memberikan saran, pandangan dan nasehat sebagai pemikiran alternatif kepada kerajaan atau negara. Oleh karena itu seorang Panrita/Cendikiawan dapat menduduki jabatan dan anggota di Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, organisasi-organisasi politik (partai politik), massa (ormas) dan organisasi kemasyarakatan (paguyuban). Dia bisa berada di dalam (bagian) atau di luar kekuasaan. Pada hakekatnya dapat memfungsikan dirinya sebagai pengambil keputusan, pengontrol kekuasaan, pemberi pandangan/saran/nasehat dan penegak kebenaran.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan