Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT, Sosiolog UGM: Negara Gagal Melindungi Anak-anak

  • Bagikan
Kuburan siswa berinisial YBR yang tewas gantung diri.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kasus bunuh diri YBR (10) siswa SD Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipicu karena orang tuanya tak mampu membelikan buku dan pena menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan. Kasus ini menambah daftar kelam kasus bunuh diri pada anak di Indonesia.

Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh pihak sekolah sebesar Rp 1,2 juta.

Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta, menilai peristiwa tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai tanda kegagalan struktural negara dalam melindungi anak-anak.

Menurut Andreas, fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan adanya persoalan sosial yang kompleks dan berakar pada ketimpangan struktural.

Ia menegaskan, kasus tersebut merupakan puncak akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara dalam menyediakan layanan dasar yang merata.

“Fenomena ini harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar”, papar Andreas dilansir dari situs resmi UGM, Sabtu (7/2/2026).

Ia menjelaskan, kekerasan struktural negara tampak dalam praktik pembangunan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elit, sementara masyarakat miskin mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

“Kondisi tersebut, menurutnya, menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak,” jelasnya.

  • Bagikan
Memuat komentar…